Minggu, 09 Januari 2011

PERMASALAHAN PEMBIAYAAN PASCA BERFUNGSINYA JEMBATAN SURAMADU



Setahun sudah berfungsinya jembatan Suramadu yang menghubungkan antara Surabaya dengan Madura. Namun dibalik berfungsinya jembatan megah tersebut masih ada masalah besar yang dihadapinya. Masalah yang dihadapi yaitu meski jembatan itu sudah difungsikan, namun pemerintah masih menyisakan hutang kepada kontraktor yang mengerjakannya yaitu Kontraktor Pemerintah Cina dan Consorcium of Indonesia Contractors (CIC) merupakan gabungan dari empat kontraktor besar yaitu PT Adhi Karya, PT Hutama Karya, PT Waskita Karya, dan PT Wijaya Karya. Hutang Pemerintah yang ditanggung untuk dibayarkan kepada pelaksana pembangunan Jembatan Suramadu dan totalnya mencapai Rp 932,04 milyar. Namun berdasarkan hasil perhitungan jumlah hutang yang mampu dibayar pemerintah hanya sebesar Rp 802,04 milyar, jumlah tersebut hanya mampu untuk menutupi hutang pemerintah kepada kontraktor China sebesar Rp 527,10 milyar dan pembayaran kepada konsorsium Kontraktor BUMN sebesar Rp 274,94 milyar. Sisa hutang yang belum mampu dibayar oleh pemerintah membuat permasalahan semakin bertambah. Pemerintah masih memiliki hutang kepada Consorcium of Indonesia Contractors (CIC) mencapai Rp 80 miliar. Namun hingga kini dana yang dijanjikan pemerintah belum cair. 

Awal permasalahan yang dihadapi terjadi akibat tidak adanya kerjasama pemerintah dan swata dalam pembangunan Jembatan Suramadu tersebut. Pola pembiyaan pembangunan jembatan selat Madura (SURAMADU) sepenuhnya dibiayai pemerintah Indonesia dan daerah, 55% dananya dari pemerintah Indonesia dan sisanya (45%) dari pinjaman pemerintah China. 

Adakah Peran swasta dipembangunannya? Tidak ada. Bahkan Pemprov Jawa Timur sempat menalangi pembiayaan pembangunan sebagian Jembatan Suramadu sebesar Rp 50 miliar karena dana dari Bank Exim of China terlambat cair, sementara pekerjaan konstruksinya tidak boleh terhenti.

Apa yang harus dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan hutang tersebut? Di satu sisi Jembatan Suramadu sudah berfungsi. Sehingga pemerintah harus segera melakukan suatu sistem pembiyaan yang mampu menyelesaikan hutang tersebut. Diliat dari permasalahan diatas sistem BOT bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, yaitu suatu bentuk upaya kerjasama dimana Pemerintah Kota atau BUMD menyewakan atau melakukan kerjasama usaha atas fasilitas yang dikuasainya. Kemudian Pemerintah memberi hak pengusahaan kepada investor untuk mengoperasikan atau mengelola fasilitas tersebut untuk jangka waktu tertentu dengan memberikan fee (atau tanpa fee) kepada pemilik fasilitas (Pemerintah) selama masa kontrak, dan pada akhir masa kontrak, fasilitas menjadi milik Pemerintah

Melihat dari kasus diatas pembiayaan pembangunan melalui dana pinjaman berpotensi merusak struktur ekonomi secara keseluruhan, atau menjerat Pemerintah dengan beban hutang yang tinggi. Karena itu ada baiknya setiap pemerintah lebih mengutamakan untuk lebih berinisiatif dan berinovasi untuk mengembangkan skema-sekam pembiayaan yang dapat mengatasi ketergantungannya pada pembiayaan eksternal lewat peningkatan sumberdaya dalam negeri misalnya dengan meningkatkan kegiatan khas madura / pariwisata, pengembangan wilayah berbasis lokal dll.


8 komentar:

  1. artikel anda menarik, akan tetapi bila mengutip dari kata kata anda "Karena itu ada baiknya setiap pemerintah lebih mengutamakan untuk lebih berinisiatif dan berinovasi untuk mengembangkan skema-sekam pembiayaan yang dapat mengatasi ketergantungannya pada pembiayaan eksternal lewat peningkatan sumberdaya dalam negeri misalnya dengan meningkatkan kegiatan khas madura / pariwisata, pengembangan wilayah berbasis lokal dll"

    sy masih penasaran apakah dengan memanfaatkan pendapatan regional madura mampu menutupi hutang hutang dari proyek suramadu ini?
    mungkin bisa, tapi mnurut saya akan memakan waktu yg sangat lama
    apakah ada alternatif yg lain mnurut anda?
    trims :)

    BalasHapus
  2. terima kasih bwt msukannya..:)

    mngkin disini utk mslh "pembiayaan eksternal lewat peningkatan sumberdaya dalam negeri" lbih diutamakan utk kegiatan selanjutnya.. Jadi disini pemerintah hrus belajar pda prmasalahan sbumnya, mngkin dgn adanya keg ini mampu membantu pemerintah dlm pembiayan suatu pembangunan
    terima kasih..

    utk alternatif pemecahan permasalahan diatas saya sdh mnyebutkan mnggunakan metode bot ..:)

    BalasHapus
  3. menyambung dari jawaban anda dari saudari indri saya masih bingung dengan jawaban anda "pembiayaan eksternal lewat peningkatan sumberdaya dalam negeri" itu maksudnya seperti apa? apakah hanya dengan peningkatan SDM dalam negeri dapat membantu maslah pemerintah dalam hala pembiayaan pembangunan. dalam hal ini pembiayaan pembangunan seperti apa?

    BalasHapus
  4. terima kasih saudara sani..
    maaf sebelumnya utk saudara indri dan sani atas jwban saya yg mmbingungkan :)

    Saya akan meluruskan jwban saya
    mksd saya sebenarnya disini supaya pemerintah tdk selalu tergantung dgn pembiayaan eksternal seperti pda kasus pembiayaan jembatan suramadu

    setidak"nya dgn adanya peningktana SDA dlm negeri dpt memberikan pemasukan bagi PAD suatu daerah meskipun itu sedikit..

    Namun lambat laun PAD tersebut dpt meningkat dan dpt membantu dlm suatu pembiayaan..

    BalasHapus
  5. Peningkatan SDA untuk PAD ya.. mnrt saya tidak hanya untuk PAD saja tapi untuk meningkatkan sumber APBN .. karena dalam pembiayaan suramadu ini merupakan proyek nasional. jadi pembiayaan dari negara juga masuk kan..
    mohon dikoreksi apabila pendapat saya kurang benar.

    BalasHapus
  6. terima kasih sani atas masukannya...:)
    menurut saya jawaban anda benar peningkatan SDA tidak hanya utk PAD naun untuk APBN juga bisa..

    BalasHapus
  7. hemm..
    mahasiswa2 yang rajin..
    keep posting, guys!

    BalasHapus